Senin, 22 April 2013

jika saja...

Aku tak suka pertemuan. Apapun macam dan bagaimanapun bentuknya. Ingin rasanya menghindari kata itu. Kata yang menurutku begitu angker, seolah banyak misteri dalam sebuah kata pertemuan. Itu memang suatu kebenaran. Pertemuan itu itu misterius. Tak tertebak. Ditilik dari maknanya kata itu memang membahagiakan. Kegembiraan bisa hadir dengan kata itu. Siapa yang tak bahagia jika bertemu? Semuanya pasti bahagia. Apalagi jika bertemu dengan seseorang yang senantiasa kita cinta dan rindu. Itu suatu kenikmatan lebih dari makna pertemuan. Kata yang dapat mengukir senyum dibibir.
Tapi siapa sangka, satu kata membahagiakan itu berdampak fatal. Dia bisa merubah hidup bahkan menghancurkan hidup. Kebahagian yang pernah dirasa akan hilang, musnah tak berbekas. Senyum yang tersungging berubah menjadi butir-butir air mata. Sebegitu jahatkah kata itu sehingga bisa merubah terang menjadi gelap, bahagia menjadi luka?
Semua itu mungkin tidak akan terjadi jika pertemuan berdiri sendiri dan tidak memiliki pasangan. Kebahagiaan itu pasti akan terus ada. Senyum itu pasti akan terus tersungging dan terang itu tak akan pernah terganti oleh gelap. Jika saja...pertemuan tidak berakhir dengan PERPISAHAN!!!

menurutku ini bukan kebodohan

Dia hadir tanpa kuminta, bahkan tanpa aku kenal dia sebelumnya. Hanya sebatas tau dari cerita beberapa teman dekatku. Lewat obrolan singkat pada jejaring sosial dia memperkenalkan diri. Kemudian berlanjut pada pesan singkat dihandphone. Semakin lama aku semakian tau dirinya. Hey dia manis sekali! Ya begitulah yg bisa aku tangkap dari pesan-pesan singkat yg dia kirimkan. Huruf-huruf itu merangkai kata dan menjadikan kalimat yg luar biasa indah. Serasa sempurna. Hanya lewat pesan. Tapi itu sudah cukup membuatku tersanjung. Bahkan aku mulai nyaman dengan itu semua. Ada apa denganku? Ini bukan diriku yang biasanya. Aku selalu acuh pada setiap orang yg ingin mengenalku lebih jauh. Aku tak suka jika privasiku diganggu oleh orang lain.Tapi ini? Tengah malampun aku rela terbangun hanya untuk membaca pesan singkat yg dia kirimkan. Yang berisi ucapan selamat tidur serta rentetan kata dan kalimat manis lainnya. Aku tak marah, apalagi mematikan handphone. Aku malah membalas pesan itu. Sama. mengucapkan selamat tidur juga dan menanggapi kalimat manis darinya. Ini sama sekali bukan diriku. Aku berubah hanya dengan pesan-pesan singkat itu. Tanpa aku mengenal si pengirim dengan baik.Bertemu tatap muka dengannyapun aku belum pernah, hanya sebatas memandang dari kejauhan. Karena aku tak punya banyak nyali untuk menyapanya terlebih dahulu. Akupun tak berharap dia menghampiriku. Tanpa ada pertemuan resmi, tanpa ada tatapan mata, tanpa ada sapa apalagi genggaman tangan. Ah! Aku tak mengharap itu, berpikir seperti itupun tak pernah. Sampai sekarang pesan-pesan manis itu masih setia mampir di kotak masuk handphoneku. Walau tak sesering dulu. Biarlah, biarlah semua seperti ini. Aku menikmatinya. Aku nyaman dengan keadaan ini. Tak perduli orang menyebutku bodoh. Selagi aku menikmatinya apa itu salah?